Hardwareholic – Tim Redaksi Hardwareholic berkesempatan menghadiri ajang Smart City Summit & Expo (SCSE) 2026 yang digelar di Taipei, Taiwan. Tahun ini, pameran teknologi kota pintar tersebut memperlihatkan pergeseran besar dari sekadar konsep menuju implementasi nyata berbasis AI
Jika sebelumnya smart city identik dengan pengumpulan data dan sistem monitoring, kini pendekatan yang diusung telah berkembang menjadi AI City, yaitu ekosistem kota yang mampu menganalisis data secara real-time sekaligus mengambil keputusan secara otomatis.
Berbagai solusi yang ditampilkan tidak lagi bersifat eksperimental, melainkan sudah dirancang untuk diterapkan langsung di lingkungan perkotaan modern.
ASUS & Foxconn: Fondasi AI City dan Sovereign AI
Booth ASUS dan Foxconn jadi salah satu yang paling besar sekaligus paling “berat” secara teknologi.
Konsep yang mereka dorong adalah Sovereign AI—di mana sebuah kota bisa menjalankan AI-nya sendiri tanpa harus bergantung ke cloud pihak ketiga. Ini penting banget untuk data sensitif seperti keamanan, transportasi, hingga layanan publik.

ASUS menampilkan platform seperti Maestro, yang berfungsi sebagai “manajer” untuk berbagai robot kota—mulai dari delivery bot sampai security robot—agar bisa saling terintegrasi dalam satu sistem.
Sementara Foxconn fokus ke sisi infrastruktur, termasuk integrasi data dari kendaraan listrik seperti bus, yang bisa dimonitor secara real-time untuk kebutuhan traffic management hingga efisiensi energi.
Di sini kelihatan jelas: AI City bukan sekadar konsep, tapi sudah mulai punya “otak + tubuh” yang lengkap.
Tokyo Pavilion: Smart City dengan Fokus Efisiensi Ruang
Tokyo Pavilion membawa pendekatan yang cukup unik—lebih fokus ke efisiensi ruang dan ketahanan kota.

Salah satu yang paling menarik adalah robotic parking system, di mana mobil diangkat otomatis dan disusun secara vertikal menggunakan sistem mekanis. Prosesnya cepat, sekitar 90 detik, dan sangat relevan untuk kota padat seperti Tokyo atau Taipei.
Selain itu, mereka juga menampilkan digital twin kota, yaitu simulasi real-time yang bisa digunakan untuk prediksi bencana seperti banjir.
Pendekatan ini nunjukin bahwa smart city bukan cuma soal teknologi canggih, tapi juga bagaimana memaksimalkan ruang yang terbatas.
The Practical Stuff: Parking & Security yang Sudah Dipakai
Kalau ngomong implementasi nyata, area ini yang paling “relate” ke kehidupan sehari-hari.

Teknologi smart parking sekarang sudah pakai kamera AI yang langsung membaca plat nomor saat kendaraan masuk, tanpa tiket atau mesin manual. Semua sistem berjalan otomatis dan pembayaran bisa dilakukan lewat aplikasi.
Di sisi keamanan, AI surveillance berkembang jauh—bukan cuma monitoring, tapi sudah bisa mendeteksi perilaku mencurigakan atau kondisi darurat seperti orang jatuh atau kecelakaan.
Ini menunjukkan bahwa smart city itu bukan cuma proyek besar, tapi sudah masuk ke hal-hal kecil yang langsung terasa manfaatnya.
Connectivity: Askey & FET, Tulang Punggung Smart City
Semua sistem tadi nggak akan jalan tanpa konektivitas yang kuat.

Askey menghadirkan solusi 5G yang cukup menarik, termasuk perangkat portable yang bisa dibawa ke area bencana untuk membangun jaringan darurat.
Sementara FET (Far EasTone) menunjukkan konsep smart pole, yaitu tiang lampu jalan yang juga berfungsi sebagai hub 5G, sensor lingkungan, dan monitoring traffic.
Ini jadi fondasi penting karena smart city pada dasarnya adalah ekosistem data yang harus selalu terhubung.
Net Zero Vision: AI untuk Energi dan Sustainability
Selain AI, satu tema besar lainnya adalah net zero emission.

Beberapa solusi yang ditampilkan termasuk:
- Virtual Power Plant (VPP), yang menggabungkan energi dari berbagai sumber seperti EV dan solar panel
- Smart grid untuk distribusi energi yang lebih efisien
- Pengembangan infrastruktur hydrogen untuk transportasi berat
Pendekatan ini menunjukkan bahwa smart city masa depan bukan cuma pintar, tapi juga harus sustainable.































