Mendukung Kreator dan Produksi Konten

Di sektor kreatif, RTX Spark dirancang untuk membantu pengguna menangani pekerjaan pengolahan gambar, video, dan grafis 3D. Kapasitas unified memory hingga 128 GB menjadi salah satu aspek penting untuk menangani proyek dengan aset berukuran besar.

NVIDIA bekerja sama dengan Adobe untuk menghadirkan akselerasi TensorRT pada fitur penyuntingan berbasis AI di aplikasi kreatif, termasuk Photoshop, Premiere, dan Substance 3D. Pada saat peluncuran, dukungan native RTX Spark untuk Photoshop dan Premiere tersedia dalam versi beta, sedangkan dukungan untuk Substance 3D direncanakan akan menyusul.

NVIDIA Broadcast 2.3 turut menghadirkan fitur pengurangan kebisingan latar belakang pada rekaman yang sudah dibuat serta pengolahan karakter suara melalui Studio Voice Mic Profiles.

Untuk pengolahan video berbasis AI, node RTX Video terbaru di ComfyUI memungkinkan video hasil generasi AI dengan frame rate 15 fps ditingkatkan menjadi 60 fps. Fitur tersebut juga mendukung konversi ke rentang dinamis tinggi atau HDR tanpa biaya inferensi cloud untuk setiap penggunaan fitur ini.

Kombinasi kemampuan ini ditujukan bagi kreator yang membutuhkan perangkat portabel untuk memproduksi konten tanpa harus selalu terhubung ke sistem komputasi eksternal.

Pengembangan Perangkat Lunak dan Gaming dalam Satu Perangkat

RTX Spark juga menyasar pengembang perangkat lunak yang membutuhkan lingkungan kerja untuk membangun, menguji, dan menjalankan aplikasi berbasis AI.

Dukungan CUDA secara native memungkinkan pengembang menjalankan model dan agen AI langsung pada perangkat. Integrasi dengan Windows Subsystem for Linux juga menyediakan akses ke lingkungan kerja yang umum digunakan untuk pengembangan aplikasi berbasis Linux.

NVIDIA dan Microsoft menyiapkan sejumlah dukungan pengembangan untuk Windows on Arm, termasuk build PyTorch-CUDA, Python native, installer Conda native, serta kompatibilitas dengan 97% dari 15.000 paket Python teratas yang disebutkan dalam pengumuman NVIDIA.

Di sisi gaming, RTX Spark menggabungkan kemampuan grafis Blackwell RTX dengan dukungan teknologi seperti DLSS, ray tracing, G-SYNC, dan Reflex. NVIDIA menyebut perangkat ini mampu menjalankan game AAA pada resolusi 1440p dengan frame rate lebih dari 100 fps dalam skenario yang didukung.

Sejumlah judul yang disebut dalam pengumuman tersebut meliputi Cyberpunk 2077, Fortnite, Gears of War: E-Day, Marvel Rivals, World of Warcraft, dan NBA 2K27.

Performa aktual tetap bergantung pada konfigurasi perangkat, pengaturan grafis, game yang dimainkan, serta implementasi teknologi pendukung. Karena itu, angka performa yang disampaikan NVIDIA perlu dipahami sebagai klaim kemampuan platform pada skenario yang sesuai, bukan jaminan untuk semua game dan kondisi penggunaan.

Mulai dari US$2.599, ketersediaan bergantung wilayah

NVIDIA menyatakan perangkat RTX Spark mulai tersedia secara global pada 16 Oktober 2026 melalui ASUS, Dell, HP, Lenovo, Microsoft, dan MSI, baik melalui situs resmi masing-masing maupun melalui sejumlah peritel.

Model yang disebut dalam pengumuman awal meliputi ASUS ProArt P14 dan P16, Dell XPS 16, HP OmniBook Ultra dan OmniBook X 14, Lenovo Yoga Pro 9n, Microsoft Surface Laptop Ultra, serta MSI Prestige N16 Flip AI+ dan Prestige N16.

Harga awal yang diumumkan adalah US$2.599. Harga dan konfigurasi dapat berbeda tergantung pada wilayah dan model perangkat.

Untuk pasar Indonesia, informasi mengenai harga resmi dalam rupiah, konfigurasi yang dipasarkan, serta jadwal ketersediaan masing-masing model perlu dikonfirmasi kepada produsen atau mitra penjualan resmi di Tanah Air.

Membawa AI Lebih Dekat ke Pengguna PC

Melalui RTX Spark, NVIDIA berupaya memperluas penggunaan komputasi AI dari pusat data dan layanan cloud ke perangkat pribadi. Integrasi CPU, GPU, memori berkapasitas besar, serta dukungan perangkat lunak AI dalam satu platform membuka peluang bagi pengembang, kreator, dan pengguna profesional untuk menjalankan lebih banyak pekerjaan langsung di PC.

Namun, harga awal US$2.599 menempatkan perangkat ini di segmen premium. Nilai yang ditawarkan akan sangat bergantung pada kebutuhan pengguna, terutama bagi mereka yang rutin menjalankan model AI lokal, mengembangkan aplikasi, atau memproduksi konten dengan beban komputasi tinggi.