Hardwareholic – Samsung kembali menunjukkan ambisinya di dunia storage dengan menyiapkan SSD generasi terbaru yang membawa kombinasi teknologi cukup menarik. Perangkat ini diketahui menggunakan antarmuka PCIe 5.0, memori QLC, dan yang paling mencuri perhatian adalah penggunaan controller berbasis RISC-V yang dikembangkan secara khusus.
SSD ini dikenal dengan nama pengembangan BM9K1 dan diproyeksikan menjadi salah satu solusi penyimpanan masa depan yang tidak hanya mengandalkan kecepatan tinggi, tetapi juga efisiensi serta kemampuan menangani beban kerja modern seperti AI.
Kalau biasanya SSD hanya dinilai dari angka kecepatan, kali ini Samsung mencoba mengubah pendekatan dengan menghadirkan keseimbangan antara performa, efisiensi daya, dan kecerdasan pengolahan data.
Berbicara soal performa, SSD ini diklaim mampu mencapai kecepatan baca hingga 11.4 GB per detik. Angka ini jelas masuk kategori sangat tinggi, apalagi mengingat SSD ini menggunakan QLC yang selama ini dikenal lebih lambat dibandingkan TLC. Bahkan Samsung menyebutkan adanya peningkatan performa sekitar 1.6 kali dibanding generasi sebelumnya, yang menunjukkan adanya optimasi besar di sisi controller dan firmware.
Selain performa, efisiensi daya juga jadi fokus utama. Samsung mengklaim peningkatan efisiensi hingga 23 persen. Ini penting karena SSD PCIe 5.0 dikenal memiliki konsumsi daya yang cukup tinggi, terutama saat bekerja di kecepatan maksimal. Dengan efisiensi yang lebih baik, SSD ini jadi lebih cocok untuk laptop maupun perangkat yang mengutamakan daya tahan baterai.
Yang membuat SSD ini benar-benar berbeda adalah penggunaan arsitektur RISC-V pada controllernya. Selama ini, sebagian besar SSD menggunakan controller berbasis ARM. Dengan beralih ke RISC-V, Samsung mendapatkan fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan firmware dan optimasi internal.

RISC-V sendiri merupakan arsitektur open-source yang memungkinkan produsen untuk menyesuaikan desain sesuai kebutuhan. Dalam konteks SSD, hal ini berarti Samsung bisa mengatur bagaimana data ditulis, dibaca, serta dikelola dengan lebih efisien. Ini sangat penting terutama untuk QLC yang memiliki keterbatasan dalam hal kecepatan tulis dan daya tahan.
Dengan controller yang lebih fleksibel, Samsung dapat mengimplementasikan teknik caching, manajemen data, serta optimasi workload yang lebih cerdas. Hasilnya adalah performa yang lebih stabil meskipun menggunakan jenis NAND yang secara teori memiliki keterbatasan.
Menariknya, SSD ini juga dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan komputasi modern, khususnya AI. Tren saat ini menunjukkan bahwa banyak proses AI mulai dipindahkan ke perangkat lokal, bukan hanya bergantung pada cloud. Hal ini membutuhkan storage yang cepat sekaligus efisien dalam menangani data dalam jumlah besar.































