Jakarta, Februari 2021 – Tren industri esports yang terus bertumbuh kuat di tengah pandemi, menjadi  magnet bagi banyak orang. Beragam jenis pekerjaan didalamnya mulai dari player, streamer hingga  manager klub tampak sebagai peluang karir yang menjanjikan. Sebagai industri baru dengan  perkembangan pesat, aspek legal mendasar didalamnya masih banyak menjadi pertanyaan. 

Oleh karena itu, UniPin sebagai leading top up platform untuk online game, mengajak mahasiswa  mendalami aspek legal dan hukum yang berperan penting dalam menentukan kesuksesan pada industri  esport. Melalui Webinar bertajuk “Pentingnya Memahami Kontrak dan Perjanjian Kerja dalam Dunia  Esports” yang diselenggarakan Senin (22/02) lalu. Unity (UniPin Community) mengundang pakar dalam  industri esport untuk dapat berbagi insight kepada seluruh peserta dalam aktivitas ini. Hadir sebagai  narasumber, Erick Herlangga, Founder & President Louvre Dewa United dan Louvre Esports, serta  Yudistira Adipratama, Ketua Bidang (Kabid) Hukum dan Legalitas PBESI (Pengurus Besar Esports Indonesia) dan Partner K-Case Lawyer. 

Sebagai pemilik klub basket serta esports di saat bersamaan, Erick mengakui kedua bidang memiliki  banyak perbedaan. Terutama dalam hal penentuan kontrak kerjasama antara pemilik klub dengan  pemain. Perbedaan yang cukup jelas berkaitan dengan aturan yang berlaku saat ini. Jika basket sudah  memiliki PERBASI (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia), Erick berharap kehadiran PBESI bisa  membantu menyelesaikan gap yang ada. Meskipun begitu, Erick menyarankan kepada para calon pemain untuk teliti dan berhati-hati dalam menandatangani kontrak atau perjanjian yang ditawarkan, 

“Pemain nggak bisa komplain, karena ketika kontrak itu diteken oleh orang dewasa, maka itu seharusnya  sah secara hukum. Jangan sembarangan tandatangan, kalau tidak paham ya diskusi. Dengan adanya PBESI,  mungkin bisa kesana. Misal sungkan, bisa tunjuk agency.” 

Di sisi lain, Yudhistira yang memotori perumusan aturan esports melalui PBESI, telah banyak berbagi  penyusunan rencana-rencana aturan ke depan. Ia sempat membocorokan pula, bahwa sebagai salah satu  negara dengan ekosistem esports terbesar di Asia, PBESI berinisiatif untuk menjadi contoh bagi di negara  lain. Sehingga, meyakinkan agar aspek-aspek kecil yang ada, tidak akan terlewatkan.  

Yudhis – panggilan akrab Yudhistira, juga menyebutkan bahwa PBESI kedepannya akan terbuka untuk  siapapun yang ingin berkonsultasi terkait hukum atau urusan legal esports, 

“Ketika mau sign suatu kontrak, yang pertama harus dilihat itu judulnya. Kemudian mungkin yang lebih  baik adalah mencoba untuk mengkonsultasikan. Sekarang kan ada PBESI nih, kita kan ditunjuk untuk  melayani ekosistemnya. Jadi kalau teman-teman mau tandatangan suatu kontrak dan minta pendapat  hukum dari kita, go ahead datang ke kantor kita. Itu adalah kantor kita bersama.”

Debora Imanuella, selaku Senior Vice President UniPin Community yang hadir sebagai moderator  menambahkan bahwa webinar ini terselenggara karena belum tersedianya wadah yang melakukan  pembahasan secara mendalam mengenai aspek legal dalam esports, 

“Berdasarkan riset dari tim Unity, banyak teman-teman yang masih bingung terkait hukum dan hal-hal  legal dalam industri ini. Padahal sebagai industri baru yang sedang naik, banyak orang ingin masuk. Semua  orang mau jadi pro-player, bikin team, dan sebagainya. Sementara hukumnya belum ada. Semoga webinar  ini dapat membuka wawasan teman-teman mahasiswa untuk kedepannya.” 

Unity sendiri sejak beberapa bulan terakhir telah aktif mengajak mahasiswa berdiskusi membicarakan sisi sisi lain dari industri esports. Mulai dari tren perkembangan, hingga yang terakhir adalah karier di esports  entertainment. Update terkait webinar maupun aktivitas Unity lain dapat diakses di halaman instagram  @unipincommunity.