Salah satu hal penting yang ikut mendorong hadirnya benchmark ini adalah munculnya era AI PC. Saat ini, perangkat modern tidak hanya mengandalkan CPU dan GPU, tetapi juga mulai dilengkapi dengan NPU atau Neural Processing Unit.

NPU merupakan komponen khusus yang dirancang untuk menangani beban kerja AI dengan lebih efisien. Namun, setiap perangkat memiliki pendekatan yang berbeda dalam menjalankan AI.

Ada perangkat yang lebih mengandalkan GPU, ada juga yang mulai fokus pada NPU, dan sebagian lainnya masih menggunakan CPU sebagai komponen utama.

Computer Vision 2.0 dirancang agar bisa menyesuaikan dengan berbagai jenis hardware tersebut. Benchmark ini mampu menggunakan berbagai tingkat presisi komputasi seperti FP32, FP16, hingga INT8, tergantung pada kemampuan perangkat yang diuji.

Dengan pendekatan ini, hasil pengujian menjadi lebih fleksibel dan adil untuk berbagai konfigurasi hardware.

Selain itu, benchmark ini juga mendukung berbagai platform seperti Windows dan macOS. Hal ini memberikan fleksibilitas lebih bagi developer, vendor hardware, maupun perusahaan yang menggunakan berbagai sistem dalam pekerjaan mereka.

Kehadiran Computer Vision 2.0 menjadi sangat penting karena saat ini AI sudah tidak lagi terbatas pada server atau data center. Teknologi ini sudah hadir di perangkat sehari-hari seperti laptop, PC, dan bahkan perangkat kecil lainnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan standar baru yang bisa mengukur performa AI secara lebih akurat dan relevan.

Computer Vision 2.0 hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Dengan pendekatan yang lebih realistis, penggunaan model AI modern, serta fokus pada skenario penggunaan nyata, benchmark ini berpotensi menjadi standar baru dalam dunia pengujian performa hardware.

Ke depannya, kemampuan AI kemungkinan akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan kualitas sebuah perangkat, sejajar dengan CPU dan GPU.

Dan jika tren ini terus berkembang, Computer Vision 2.0 bisa menjadi salah satu acuan utama dalam menilai performa perangkat di era AI.Perkembangan teknologi komputer saat ini sudah mulai bergerak ke arah yang jauh lebih canggih dibanding sebelumnya. Jika dulu performa sebuah perangkat hanya diukur dari kekuatan CPU dan GPU untuk kebutuhan seperti gaming atau rendering, sekarang fokusnya mulai bergeser ke kemampuan menjalankan kecerdasan buatan atau AI secara langsung di dalam perangkat.

Hal inilah yang menjadi latar belakang hadirnya Computer Vision 2.0 dari UL Solutions. Sebuah benchmark terbaru yang dirancang khusus untuk menguji kemampuan perangkat modern dalam menangani berbagai beban kerja berbasis AI, terutama yang berkaitan dengan pengolahan gambar dan video.

Computer Vision 2.0 bukan sekadar pembaruan biasa. Ini adalah pendekatan baru yang mengikuti perkembangan teknologi AI yang sangat cepat, di mana model-model baru kini jauh lebih kompleks dan membutuhkan cara pengujian yang lebih relevan.

Perubahan besar di dunia AI juga ikut mempengaruhi bagaimana benchmark seharusnya dibuat. Pada generasi sebelumnya, banyak benchmark computer vision masih menggunakan model berbasis CNN atau Convolutional Neural Network. Model ini memang sempat menjadi standar utama dalam pengolahan gambar.

Namun saat ini, teknologi sudah berkembang jauh. Model berbasis transformer mulai banyak digunakan karena mampu memahami konteks visual dengan lebih baik dan lebih akurat. Hal ini membuat benchmark lama menjadi kurang relevan untuk menguji perangkat modern yang sudah dirancang untuk menjalankan model AI generasi baru.