Separuh responden mengakui merasa memiliki rasa persaudaraan dengan orang tua lain ketika mereka berbagi tentang anak-anak mereka, sementara separuh lainnya mengatakan mereka tidak merasakannya. Dalam persentase yang sama, lima dari setiap 10 orang tua mengatakan bahwa afirmasi yang mereka terima tentang anak-anak mereka di media sosial memberi mereka perasaan positif, sementara separuh lainnya memiliki pandangan sebaliknya. Ada orang tua yang menghargai validasi yang mereka terima tentang pengasuhan mereka (48%), dan ada pula yang memiliki pandangan sebaliknya (52%).

Hampir setengahnya (47%) melaporkan bahwa berbagi kabar terbaru tentang anak-anak mereka dengan orang-orang yang tidak mereka temui secara sering atau yang tinggal jauh membuat mereka merasa senang, sementara 53% tidak memiliki perasaan yang sama.
Meskipun hampir separuh responden (48%) mengakui merasa positif tentang berbagi momen dan pencapaian penting terkait anak-anak mereka, hampir mayoritas (82%) mengatakan mereka tidak secara teratur memperbarui jaringan media sosial mereka tentang pencapaian penting keluarga mereka. Meskipun demikian, orang tua ini mungkin mengalami apa yang disebut “dilema berbagi online dalam pengasuhan anak/ sharenting”, menyadari insentif berbagi untuk koneksi sosial, dukungan jaringan, dan validasi, namun masih cenderung pada pendekatan yang lebih hati-hati.
“Studi kami menunjukkan bahwa orang tua merasa khawatir karena media sosial dan perusahaan pemasaran pihak ketiga dapat membuat profil dan melacak anak-anak mereka ketika mereka berbagi tentang anak-anak mereka secara daring. Dan bahkan jika anak-anak itu sendiri tidak memiliki akun media sosial, platform ini masih dapat menggambarkan perilaku mereka sebagai calon konsumen menggunakan data pengguna lain. Meskipun banyak dari orang tua ini mengakui bahwa berbagi pengalaman mengasuh anak memang memiliki manfaat, mereka lebih memilih untuk berhati-hati dengan membatasi apa yang mereka bagikan. Ada cara untuk mempraktikkan sharenting yang bijaksana, dan itu dimulai dengan lebih berhati-hati dalam mengelola jejak digital anak-anak,” kata Trishia Octaviano, Manajer Senior, Pendidikan Keamanan Siber untuk Asia Pasifik di Kaspersky.
Untuk melanjutkan sharenting dengan lebih aman, para ahli Kaspersky menyajikan tips cara mengelola privasi digital untuk keselamatan keluarga Anda:
- Hapus akun lama yang tidak lagi Anda gunakan.
- Atur akun Anda menjadi privat jika Anda tidak ingin profil Anda bersifat publik.
- Luangkan waktu untuk menelusuri pengaturan privasi di akun media sosial Anda, dan periksa secara berkala, karena pengaturan tersebut cenderung berubah. Tinjau jaringan kontak Anda, aktivitas masa lalu, dan visibilitas profil.
- Sebelum mengungkapkan informasi apa pun secara online, pikirkan apakah informasi tersebut dapat digunakan untuk membahayakan Anda.
- Berhati-hatilah dalam mengungkapkan geolokasi dalam unggahan dan hapus metadata dari file foto. (Untuk petunjuk terperinci tentang cara melakukannya, baca artikel ini di situs blog Kaspersky: Cara menghapus metadata dari foto, video, dan file lainnya, dan mengapa perlu dilakukan | Blog resmi Kaspersky)
- Pertimbangkan untuk menghapus unggahan yang memperlihatkan lokasi anak Anda secara real-time dan penting, misalnya sekolah, klub olahraga.
- Pantau aktivitas online anak Anda secara aktif.
- Gunakan alat seperti Kaspersky Safe Kids yang juga disertakan dalam Kaspersky Premium. Aplikasi ini memudahkan kontrol orang tua termasuk melacak keberadaan dan kebiasaan penggunaan perangkat, membatasi konten, menyeimbangkan waktu layar, dan banyak lagi dalam satu aplikasi.































