Yassierli juga menyampaikan harapannya agar seluruh perusahaan dapat meningkatkan tingkat kematangan hubungan industrialnya. Ia menggambarkan proses tersebut sebagai perjalanan bertahap, mulai dari perusahaan yang belum memiliki serikat pekerja menjadi memiliki serikat pekerja, kemudian memiliki Perjanjian Kerja Bersama (PKB), hingga akhirnya mencapai kondisi di mana isi PKB mencerminkan solusi yang saling menguntungkan (win-win solution).

Lebih jauh lagi, ia berharap perusahaan dan pekerja dapat masuk ke tahap kolaborasi yang lebih tinggi, di mana keduanya menjadi mitra yang tidak hanya fokus pada kepentingan internal, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Mimpi saya, semua perusahaan maturitas hubungan industrialnya naik kelas. Yang dulunya tidak ada SP/SB jadi ada SP/SB. Yang tidak ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) jadi punya PKB. Yang sudah punya PKB tapi pasalnya masih kering, sudah ada win-win solution. Naik kelas lagi, mulai berkolaborasi, perusahaan dan pekerja menjadi mitra bersama, mereka juga concern peduli terhadap lingkungan sekitar,” paparnya.

Menurut Yassierli, peningkatan kesejahteraan pekerja tidak dapat dilepaskan dari produktivitas. Oleh karena itu, hubungan industrial yang sehat harus dibangun atas dasar saling percaya, saling mendengar, dan saling mencari solusi, bukan sekadar mempertentangkan kepentingan antara pekerja dan perusahaan.
Ia juga mendorong agar aspirasi pekerja disampaikan secara konstruktif melalui dialog sosial yang mengedepankan nilai-nilai gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah mufakat. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan berbagai persoalan hubungan industrial tidak berlarut-larut, melainkan dapat diselesaikan secara bersama-sama, adil, dan berkelanjutan.
“Kita punya kekuatan budaya gotong royong dan musyawarah. Dengan semangat itu, persoalan hubungan industrial dapat diselesaikan bersama,” ujarnya.
Melalui momentum musyawarah nasional tersebut, Yassierli berharap serikat pekerja dapat terus memperjuangkan pekerjaan yang adil dan layak, sekaligus berperan aktif dalam mendorong inovasi, produktivitas, serta penerapan cara kerja modern yang lebih adaptif dan efisien.
Menurutnya, hubungan industrial yang transformatif akan menjadi salah satu kunci penting dalam mempersiapkan dunia kerja Indonesia agar lebih siap menghadapi perubahan, sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Maju dan Indonesia Emas.































