Perubahan ukuran CPU ini cukup beralasan, karena mereka menggunakan arsitektur baru di jajaran prosesor generasi ini dimana bukan hanya menyematkan inti prosesor performa tinggi saja, melainkan juga menggunakan inti prosesor berkinerja rendah. Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh vendor chipset untuk SoC smartphone, yang dikenal sebagai inti big.LITTLE. Sedangkan di Intel, mereka menyebut inti dengan performa tinggi sebagai Performance Core (P) dan inti irit daya sebagai Efficiency Core (E).

Konfigurasi yang digunakan pun cukup menarik, contohnya Intel Core i9-12900K dan i5-12600K. Prosesor ini masing-masing memiliki total 16 core dan 24 thread serta 10 core dan 16 thread. Bagi sebagian orang, angka ini terlihat aneh. Kalau di CPU generasi sebelumnya, jika sebuah prosesor memiliki 16 core biasanya akan memiliki total 32 thread. Begitu juga dengan CPU 10 core, maka akan memiliki total 20 thread.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, Intel membagi cluster inti CPU mereka menjadi dua. Untuk P Core di i9-12900K, mereka menggunakan total 8 core dengan total 16 thread. Sementara untuk E Core, mereka menggunakan 8 core dengan 8 thread. jika dilihat, total dari inti CPU yang dimiliki adalah 16 core dan 24 thread. Di sisi lain, i5-12600K akan memiliki total 6 core dan 12 thread untuk P Core, sementara untuk E Core mereka menggunakan 4 core dan 4 thread, sehingga secara total mereka memiliki 10 core dan 16 thread.
Kedua inti ini memiliki fungsi yang berbeda, namun tetap bersinergi. P Core dimaksudkan untuk menjalankan aplikasi berat seperti game atau aplikasi editing, sedangkan E Core dimaksudkan untuk menjalankan tugas ringan yang biasanya aktif di background.
Lalu, apa keunggulannya? Di arsitektur generasi sebelumnya, jika kita misalnya sedang bermain game lalu ada update di perpustakaan Steam kita, maka semua load akan dibagi ke CPU yang tersedia. Hal ini mengakibatkan menurunnya performa gaming kita.





























