Hardwareholic – Industri memori DRAM memasuki 2026 dengan pertumbuhan yang sangat agresif. Setelah sempat kehilangan posisi teratas pada 2025, Samsung Electronics berhasil kembali menjadi produsen DRAM terbesar di dunia berdasarkan pendapatan pada kuartal pertama (Q1) 2026.

Laporan terbaru TrendForce mengungkapkan bahwa lonjakan harga kontrak DRAM konvensional hingga 93–98% dibanding kuartal sebelumnya membuat total pendapatan industri DRAM global melonjak 81% secara kuartalan menjadi sekitar US$97 miliar. Kenaikan tersebut didorong oleh tingginya permintaan memori untuk server AI, pusat data (data center), serta infrastruktur komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Samsung Rebut Kembali Posisi Pertama

Berdasarkan data ranking produsen DRAM yang dirilis TrendForce, Samsung mencatat pendapatan sekitar US$37,32 miliar pada Q1 2026. Angka tersebut setara dengan 38,48% pangsa pasar global, mengantarkan perusahaan asal Korea Selatan itu kembali ke posisi puncak industri DRAM.

Pencapaian ini menjadi sinyal bahwa strategi Samsung dalam meningkatkan produksi DDR5, LPDDR5X, hingga High Bandwidth Memory (HBM) mulai membuahkan hasil. Permintaan yang terus meningkat dari industri AI turut membantu perusahaan memperbaiki performa bisnis memorinya.

SK hynix Tetap Menjadi Penantang Terkuat

Meski turun ke posisi kedua, SK hynix masih mempertahankan performa yang sangat solid.

Perusahaan mencatat pendapatan sekitar US$27,98 miliar atau menguasai 28,85% pasar DRAM global.

Selama beberapa tahun terakhir, SK hynix dikenal sebagai pemasok utama HBM yang digunakan pada berbagai akselerator AI kelas data center. Tingginya permintaan GPU AI dari berbagai hyperscaler dunia masih menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan perusahaan tersebut.