Hardwareholic – Indonesia memiliki ambisi besar. Proyeksi ekonomi digital nasional diperkirakan mencapai USD 360 miliar pada tahun 2030. Angka ini fantastis dan menjanjikan era kemakmuran digital.
Namun, di balik optimisme ini, terdapat kontras tajam. Faktanya, kesiapan digital (digital readiness) masyarakat kita di beberapa wilayah masih jauh dari ideal.
Menjawab tantangan ini, hadir Generasi Terkoneksi (GenSi). Ini adalah kolaborasi strategis antara Indosat Nokia (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH dan Nokia).
GenSi bukan sekadar program pelatihan biasa. Program ini merupakan intervensi penting yang berfokus pada Literasi AI Indonesia. Tujuannya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif, tidak hanya terpusat di kota-kota besar.

Membedah Akar Masalah: Kontradiksi Visi Ekonomi dan Kesenjangan Digital
Visi ekonomi digital yang tinggi membutuhkan fondasi SDM yang kokoh. Jika kita hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, kita berisiko menciptakan masyarakat terkoneksi yang tidak berdaya.
Skor IMDI 2025: Mengapa Angka 44,53 Menjadi Peringatan Strategis?
Laporan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 mencatat skor 44,53 secara nasional. Angka ini menunjukkan tren peningkatan. Namun, ada satu pilar yang harus menjadi perhatian serius para profesional muda.
Pilar Pemberdayaan dalam IMDI mencatat skor terendah, yaitu 34,42. Pilar ini secara langsung mengukur kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian ekonomi.
Angka 34,42 adalah peringatan strategis. Untuk mencapai target USD 360 miliar, fokus harus beralih dari sekadar infrastruktur (yang skornya cenderung lebih tinggi) ke kapabilitas SDM. Kita perlu individu yang mampu menciptakan nilai, bukan hanya konsumen.
Disparitas Regional dan Risiko Pemanfaatan AI yang Tidak Merata
Masalah infrastruktur yang tidak merata memperparah potensi munculnya kesenjangan AI (AI Divide). Data menunjukkan sebagian wilayah masih menghadapi tantangan akses internet. Penetrasi internet di beberapa provinsi hanya berkisar 29–36%.
Wilayah-wilayah seperti Sumatra dan Kalimantan, meskipun kaya sumber daya, masih memiliki desa-desa dengan keterbatasan sinyal kuat. Padahal, di lokasi ini banyak industri yang mulai mengadopsi otomatisasi AI.
Fokus IOH dan Nokia pada GenSi di luar pusat pertumbuhan teknologi, terutama di Sumatra dan Kalimantan, sangat strategis. Ini memastikan Pemberdayaan Digital dapat terjadi secara merata, langsung di titik krisis.
Desain Program “Generasi Terkoneksi“: Skalabilitas dan Relevansi Kontekstual
Keberhasilan program literasi harus diukur dari dampak nyatanya, bukan sekadar jumlah peserta. Program Generasi Terkoneksi dirancang untuk dampak jangka panjang.































